Malam ini aku tak bisa tidur. Jarum
di jam dinding telah bertengger di angka 12 biasanya aku telah mencapai dunia
mimpi, namun belakangan ini rasanya memejamkan mata sangat sulit. Mungkin
kesendirian ini yang membuatku gundah. Tak ada Mas Fajar yang berceloteh atau
sekedar mengomel. Ya, setiap akhir minggu Mas Fajar berpergian ke luar kota
untuk urusan kantor. Hujan dan petir yang berada di luar rumah membuat rasa
sepi, dingin menjadi kesunyian yang mencekam.
Tiba-tiba aku mendengar pintu rumah
diketuk. Aku bersiap mengambil jaket dan kerudung, cukup menutup auratku yang
sekarang hanya terbalut oleh daster. Namun, sebelum sempat aku mengapai
kerudungku pintu sudah terbuka. Seorang perempuan tiba-tiba masuk tanpa
permisi. Aku heran kenapa ia bisa masuk, perasaan aku tadi telah mengunci
pintu.
“Lama sekali kau membuka pintunya.
Aku sudah mengetuk tiga kali”, ujar perempuan yang masuk tanpa dipersilakan sama sekali. “Ah,
apakah kau tetap ingin memakai kerudungmu itu di depan ku?” tanyanya. “Sudahlah
kita kan sama-sama perempuan, tak usah kau tutupi auratmu dariku. Lagipula,
agama yang tertera di KTP-ku, Islam kok,” ejek perempuan itu sambil berjalan ke
arah lemari dan mengambil handuk yang biasanya aku gantung di sana.
Aku terdiam dan mengurungkan niatku
mengenakan kerudung. Seluruh perhatianku tertera pada perempuan yang baru saja
memasuki rumahku. Perempuan itu sungguh terlihat cantik. Matanya yang tak
terlalu sipit, namun eyeliner dan maskar membuat mata itu tampak indah, besar
dan bulat. Hidungnya berbatang mancung membentuk sudut siku sempurna. Bibirnya
mengoda apalagi dengan olesan lipstik merah delima. Rambut bergelombang yang ia
sedang keringkan itu pun terurai indah. Sederhananya, ia mirip dengan
artis-artis aasal negeri Korea yang sedang marak menghibur tanah air.
Kecantikan parasnya sangat ditunjang oleh pakaian yang menonjolkan tubuh
perempuannya. Tubuhnya yang langsing dan putih itu pun dibalut dengan mini
dress berwarna hitam. Menempel pas dilekuk-lekuk tubuhnya. Aura kecantikannya
yang terpancar itu membuatku sedikit merasa iri. Dulu aku pernah berpikir untuk
berpenampilan menggoda seperti itu tapi tak pernah ku lakukan.
Perlahan ia menuju lemari makanan
dan mengambil salah satu cemilan. Ia pun menuju kulkas dan mengambil minuman.
Aku cukup bingung karena minuman yang ia ambil, sepertinya tak pernah ada dalam
kulkas. Lalu ia duduk, lalu menuangkan minuman itu dalam gelas. Ada sedikit
ekpresi rasa tak enak enak ketika ia meneguk minuman itu.
“Apa kau mau bir?” tanyanya padaku.
Aku menggeleng tak ingin minuman
yang dilarang oleh agamaku itu menagalir di tubuhku.
“Lumayan buat hangetin tubuh lho,”tawarnya
lagi. Aku tetap menggeleng.
Ia kemudian menyalakan televisi
yang telah ku matikan tadi. Ia memutar acara sinetron yang tayang di salah satu
stasiun nasional.
Aku masih membatu di posisiku yang
tadi, mencoba mencerna keanehan yang baru terjadi. Namun, entah karena otakku
yang lamban atau memang pikiranku yang cukup
buntu, aku tak bisa menemukan jawabannya. Lagi pula ini bukan yang pertama
kalinya. Ya, ini bukan yang pertama kalinya perempuan itu datang ke rumahku.
Aku tak ingat berapa kali, namun ia selalu datang ketika Mas Fajar pergi ke
luar kota. Awalnya aku pernah mengusir perempuan itu tetapi perlahan aku
menerima kehadirannya. Aku merasa ia hadir untuk menemaniku melewati malam sepi
tanpa Mas Fajar di sampingku.
Aku merasa kesepian setiap malam.
Apalagi ada banyak hal yang berkeliaran di otakku hingga membuatku tak bisa
tidur. Aku ingin membicarakan semua pikiran yang ada diotakku kepada orang
lain. Tapi, aku bingung bagaimana harus memulainya dan dengan siapa membicarakannya.
Kemudian ia hadir, seolah mengerti bahwa aku sedang gundah. Ia terkadang
menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit yang tak bisa ku temukan bahkan tanpa
perlu aku bingung merangkai kata untuk memulainya. Waktu berlalu, tanpa ada
percakapan lagi, cuma ada kesunyian. Namun, tiba-tiba ia menagis segugukan.
“Hm apa yang membuatmu menagis? Sinetron
inikah?” tanyaku terkejut melihat ia tiba-tiba menagis.
Ia menggelengkan kepalanya.“Aku
bukan menangis karena sinteron ini. Aku menagis karena kau,”ujarnya sambil
terisak.
Aku tersenyum, aku merasa selama
ini tak ada yang menagisi tentang diriku. “Memang aku kenapa sehingga perlu
kamu tangisi.”
“Karena kisah hidupmu seperti di
sinteron yang tak bahagia dan selalu dirungrung derita,” ujarnya terisak.
“Kamu tak perlu menangisi kehidupanku.
Aku hidup bahagia kok,” ujarku mencoba menghiburnya. “Aku bahagia. Tak ada yang
kurang. Keluargaku berkecukupan. Perikahanku dengan Mas Fajar bahagia. Ia
menafkahiku lahir dan batin, membelikan rumah, mobil, bahkan kehidupan
keluargaku juga disokong olehnya,” ujarku mencoba meyakinkan perempuan yang
sepertinya begitu sedih. Aku tak tahu apa yang mendorongku untuk menghiburnya.
Aku tergerak seolah ia adalah orang yang sangat ku sayangi, walaupun aku masih
belum tahu namanya. Ia cuma tersenyum
seperti mencemooh pernyataanku tadi. Ia sepertinya menganggap bahwa argument
tadi hanya teks bacaan yang tak bermakna.
“Aku mengerti makna kebahagiaan
dalam kehidupan. Bukankah kebahagian itu terasa bagi orang yang merasa cukup
dengan apa yang dimilikinya. Merasa bersyukur
terhadap semua takdir dan pemberian Tuhan kepada mereka. Dan, aku merasa
bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang,” ujarku mencoba menjelaskan konsep
kebahagiaan yang telah ku pegang selama hidupku.
“Ya, perkataanmu benar. Tapi kau
hanya tahu arti bahagia melewat kata-kata. Dalam kehidupanmu kau tak bahagia
sama sekali! Kalau tidak mengapa kau tak bisa tidur selarut ini?” tanyanya
tiba-tiba sinis.
Aku terdiam. Ia benar aku merasa
gundah dan tak dapat tidur hampir tiap malam ketika Maas Fajar bertolak ke luar
kota. Ketika Mas Fajar tak ada di sampingku. Aku kembali membatu, mencoba
berpikir tentang kegundahan yang kurasakan namun seperti biasa otakku buntu tak
bisa menjawabnya.
“Kau benar, ia suami yang baik.
Suami yang menjalankan semua kewajibannya. Namun, Tuhan tak pernah berpihak
kepada keluarga kecil yang kalian bangun. Sepatuh apapun engkau dan suamimu
padaNya. Sudah lima tahun kalian berusaha tak kunjung Dia memberikan keturunan.
Dia sungguh senang memberikanmu masalah demi masalah,” ujarnya seolah mencoba
menjawab semua pertanyaanku.
“Kau boleh saja berpikir bahwa itu
cobaan atau ujian untuk menguji keimanan. Tapi, aku yakinkan kau, bahwa itu tak benar.
Kalau ini memang cobaan atau ujian seharusnya ada akhirnya. Lalu, sampai kapan
cobaan dan ujian yang menimpa keluarga kecilmu berakhir? Sampai suamimu itu
meninggalkanmu dan memilih hidup bersama perempuan yang selalu ia kunjungi itu.
Sampai mereka punya anak dan kau dicampakan. Kau seperti menunggu penyiksaan
yang sudah pasti datangnya. Kapan kau akan merasakan kebahagiaan?”tanyanya
padaku sambil menghapus air matanya.
“Kau bohong kalau kau bahagia.
Walau kalian tampak bahagia di luar, namun kalian gundah dengan ketiadaannya
anak di rumah ini. Tak heran Fajar akhirnya mengapai kebahagian dengan caranya
sendiri. Kau tahu dengan pasti bahwa Mas Fajar yang kau dampingi selama lima
tahun telah berubah. Ia tak pernah lagi bercerita panjang lebar kepadamu. Ia seolah-olah
menghindarimu bahkan setiap akhir minggu ia selalu pergi keluar kota. Kau
cerdas, tentu kau tahu ia ingin seorang anak, darah dagingnya sendiri. Karena
ia tak mendapatkannya darimu, tentu ia mencari perempuan lain. Ya, ia menggapai
kebahagiaannya dengan caranya sendiri.”
Lontaran kata yang terucap dari
bibir tipis itu benar adanya. Kenyataan tentang keluarga kecil kami yang tak
kunjung bahagia bahkan tentang perubahan sikap Mas Fajar yang semakin dingin
kepadaku. Hanya saja aku tak pernah mengutarakan masalah tersebut pada orang
lain. Terlebih pikiran bahwa Mas Fajar punya wanita lain ku kunci rapat dalam
pikiranku sendiri. Ku tipu diriku dengan mengatakan bahwa pernikahan yang kami
bina baik-baik saja. Aku berusaha tersenyum dan menunjukan pada dunia bahwa
kami tetap bahagia. Perempuan itu benar aku bohong pada dunia bahkan pada
diriku sendiri. Sekarang aku yang menangis.
“ Aku tahu kau telah lelah dengan
semua masalahmu sayang. Lihatlah dirimu di cermin. Kau sudah begitu lelah,
kurus, dan pucat. Daster batik yang kau kenakan setiap hari membuat kau tampak
lebih menderita, tak terurus. Kau tak semestinya seperti ini. Kau harus seperti
Fajar mencari dan mengapai kebahagiaanmu sendiri,” ujarnya mencoba menghibur
diriku.
Perkataan perempuan itu sungguh
benar. Ya, aku sangat tak terurus, aku tak suka dengan figurku yang tampak
begitu menderita. Tapi, bukankah konsep kebahagiaanku selama ini hanya
bersyukur dengan apa yang diberikan padaku. Merasa cukup dengan apapun. Lalu
apa yang tak cukup bagiku?apa yang harus ku gapai untuk menuju kebahagiaan?
“Kau bingung apa yang kau butuhkan
untuk bahagia? Kau sungguh lucu. Hapuslah air matamu dan ingat baik-baik
perkataanku ini. Kebahagian itu sederhana dan untuk mengapainya juga sederhana.
Kebahagian itu adalah memenuhi semua hasrat yang ada di dalam hatimu. Tak ada
batasan. Tak ada kekangan. Semuanya bebas. Kau berhak melakukan apapun yang kau
suka. Ya itulah kebahagiaan. Kebahagiaan yang selama ini telah aku jalani, “ Jawabnya walaupun aku tak
berkata langsung kepadanya.
“Kau masih bingung bagaimana cara
untuk bahagia? Kau telah memulainya sayang”, jawab perempuan itu.
“Ya, kau telah memulainya dengan
memanggilku datang kemari,
“ ujarnya tersenyum.
Aku terbangun. Sinar matahari
seperti menyorot mataku dan membuatku merasa silau. Secara spontan tanganku
mengocok kelopak mata yang terasa perih untuk di buka. Perlahan aku berusaha
duduk melawan rasa kantuk yang masih mengerayang. “ahh...”
Erangku sambil menyentuh kepalaku yang terasa pening.
Dalam keadaan setengah sadar dan
pusing aku melihat bahwa aku tak berada di rumah. Aku ada di sebuah kamar, aku tak kenal ruangan ini.
Di sini sunguh berantakan banyak
sampah dan botol bekas minuman keras di mana-mana. Aku baru sadar tenyata ada
seorang pria yang tidur di sebelahku. Tapi aku masih belum bisa mengingat
jelas. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu
di perutku yang membuatku tak nyaman. Aku berlari ke kamar mandi, dan langsung
memuntahkan isi perutku. Aku pun menuju wastafel menghapus bekas muntah yang
mungkin tersisa, dan mencoba menghilangkan bau busuk yang keluar dari mulutku.
Aku sungguh terkejut perempuan yang berbicara denganku semalam sekarang berada
di depan cermin. Aku sadar perempuan itu
adalah aku.
