Pages

Rabu, 09 April 2014

Menggapai Kebahagiaan


Malam ini aku tak bisa tidur. Jarum di jam dinding telah bertengger di angka 12 biasanya aku telah mencapai dunia mimpi, namun belakangan ini rasanya memejamkan mata sangat sulit. Mungkin kesendirian ini yang membuatku gundah. Tak ada Mas Fajar yang berceloteh atau sekedar mengomel. Ya, setiap akhir minggu Mas Fajar berpergian ke luar kota untuk urusan kantor. Hujan dan petir yang berada di luar rumah membuat rasa sepi, dingin menjadi kesunyian yang mencekam.

Tiba-tiba aku mendengar pintu rumah diketuk. Aku bersiap mengambil jaket dan kerudung, cukup menutup auratku yang sekarang hanya terbalut oleh daster. Namun, sebelum sempat aku mengapai kerudungku pintu sudah terbuka. Seorang perempuan tiba-tiba masuk tanpa permisi. Aku heran kenapa ia bisa masuk, perasaan aku tadi telah mengunci pintu.

“Lama sekali kau membuka pintunya. Aku sudah mengetuk tiga kali”, ujar perempuan yang  masuk tanpa dipersilakan sama sekali. “Ah, apakah kau tetap ingin memakai kerudungmu itu di depan ku?” tanyanya. “Sudahlah kita kan sama-sama perempuan, tak usah kau tutupi auratmu dariku. Lagipula, agama yang tertera di KTP-ku, Islam kok,” ejek perempuan itu sambil berjalan ke arah lemari dan mengambil handuk yang biasanya aku gantung di sana.

Aku terdiam dan mengurungkan niatku mengenakan kerudung. Seluruh perhatianku tertera pada perempuan yang baru saja memasuki rumahku. Perempuan itu sungguh terlihat cantik. Matanya yang tak terlalu sipit, namun eyeliner dan maskar membuat mata itu tampak indah, besar dan bulat. Hidungnya berbatang mancung membentuk sudut siku sempurna. Bibirnya mengoda apalagi dengan olesan lipstik merah delima. Rambut bergelombang yang ia sedang keringkan itu pun terurai indah. Sederhananya, ia mirip dengan artis-artis aasal negeri Korea yang sedang marak menghibur tanah air. Kecantikan parasnya sangat ditunjang oleh pakaian yang menonjolkan tubuh perempuannya. Tubuhnya yang langsing dan putih itu pun dibalut dengan mini dress berwarna hitam. Menempel pas dilekuk-lekuk tubuhnya. Aura kecantikannya yang terpancar itu membuatku sedikit merasa iri. Dulu aku pernah berpikir untuk berpenampilan menggoda seperti itu tapi tak pernah ku lakukan.

Perlahan ia menuju lemari makanan dan mengambil salah satu cemilan. Ia pun menuju kulkas dan mengambil minuman. Aku cukup bingung karena minuman yang ia ambil, sepertinya tak pernah ada dalam kulkas. Lalu ia duduk, lalu menuangkan minuman itu dalam gelas. Ada sedikit ekpresi rasa tak enak enak ketika ia meneguk minuman itu.
“Apa kau mau bir?” tanyanya padaku.
Aku menggeleng tak ingin minuman yang dilarang oleh agamaku itu menagalir di tubuhku.
“Lumayan buat hangetin tubuh lho,”tawarnya lagi. Aku tetap menggeleng.
Ia kemudian menyalakan televisi yang telah ku matikan tadi. Ia memutar acara sinetron yang tayang di salah satu stasiun nasional.

Aku masih membatu di posisiku yang tadi, mencoba mencerna keanehan yang baru terjadi. Namun, entah karena otakku yang lamban atau memang pikiranku yang cukup buntu, aku tak bisa menemukan jawabannya. Lagi pula ini bukan yang pertama kalinya. Ya, ini bukan yang pertama kalinya perempuan itu datang ke rumahku. Aku tak ingat berapa kali, namun ia selalu datang ketika Mas Fajar pergi ke luar kota. Awalnya aku pernah mengusir perempuan itu tetapi perlahan aku menerima kehadirannya. Aku merasa ia hadir untuk menemaniku melewati malam sepi tanpa Mas Fajar di sampingku.

Aku merasa kesepian setiap malam. Apalagi ada banyak hal yang berkeliaran di otakku hingga membuatku tak bisa tidur. Aku ingin membicarakan semua pikiran yang ada diotakku kepada orang lain. Tapi, aku bingung bagaimana harus memulainya dan dengan siapa membicarakannya. Kemudian ia hadir, seolah mengerti bahwa aku sedang gundah. Ia terkadang menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit yang tak bisa ku temukan bahkan tanpa perlu aku bingung merangkai kata untuk memulainya. Waktu berlalu, tanpa ada percakapan lagi, cuma ada kesunyian. Namun, tiba-tiba ia menagis segugukan.

“Hm apa yang membuatmu menagis? Sinetron inikah?” tanyaku terkejut melihat ia tiba-tiba menagis.
Ia menggelengkan kepalanya.“Aku bukan menangis karena sinteron ini. Aku menagis karena kau,”ujarnya sambil terisak.
Aku tersenyum, aku merasa selama ini tak ada yang menagisi tentang diriku. “Memang aku kenapa sehingga perlu kamu tangisi.”
“Karena kisah hidupmu seperti di sinteron yang tak bahagia dan selalu dirungrung derita,” ujarnya terisak.
“Kamu tak perlu menangisi kehidupanku. Aku hidup bahagia kok,” ujarku mencoba menghiburnya. “Aku bahagia. Tak ada yang kurang. Keluargaku berkecukupan. Perikahanku dengan Mas Fajar bahagia. Ia menafkahiku lahir dan batin, membelikan rumah, mobil, bahkan kehidupan keluargaku juga disokong olehnya,” ujarku mencoba meyakinkan perempuan yang sepertinya begitu sedih. Aku tak tahu apa yang mendorongku untuk menghiburnya. Aku tergerak seolah ia adalah orang yang sangat ku sayangi, walaupun aku masih belum tahu namanya.  Ia cuma tersenyum seperti mencemooh pernyataanku tadi. Ia sepertinya menganggap bahwa argument tadi hanya teks bacaan yang tak bermakna.

“Aku mengerti makna kebahagiaan dalam kehidupan. Bukankah kebahagian itu terasa bagi orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Merasa bersyukur  terhadap semua takdir dan pemberian Tuhan kepada mereka. Dan, aku merasa bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang,” ujarku mencoba menjelaskan konsep kebahagiaan yang telah ku pegang selama hidupku.

“Ya, perkataanmu benar. Tapi kau hanya tahu arti bahagia melewat kata-kata. Dalam kehidupanmu kau tak bahagia sama sekali! Kalau tidak mengapa kau tak bisa tidur selarut ini?” tanyanya tiba-tiba sinis.

Aku terdiam. Ia benar aku merasa gundah dan tak dapat tidur hampir tiap malam ketika Maas Fajar bertolak ke luar kota. Ketika Mas Fajar tak ada di sampingku. Aku kembali membatu, mencoba berpikir tentang kegundahan yang kurasakan namun seperti biasa otakku buntu tak bisa menjawabnya.

“Kau benar, ia suami yang baik. Suami yang menjalankan semua kewajibannya. Namun, Tuhan tak pernah berpihak kepada keluarga kecil yang kalian bangun. Sepatuh apapun engkau dan suamimu padaNya. Sudah lima tahun kalian berusaha tak kunjung Dia memberikan keturunan. Dia sungguh senang memberikanmu masalah demi masalah,” ujarnya seolah mencoba menjawab semua pertanyaanku.

“Kau boleh saja berpikir bahwa itu cobaan atau ujian untuk menguji keimanan. Tapi, aku yakinkan kau, bahwa itu tak benar. Kalau ini memang cobaan atau ujian seharusnya ada akhirnya. Lalu, sampai kapan cobaan dan ujian yang menimpa keluarga kecilmu berakhir? Sampai suamimu itu meninggalkanmu dan memilih hidup bersama perempuan yang selalu ia kunjungi itu. Sampai mereka punya anak dan kau dicampakan. Kau seperti menunggu penyiksaan yang sudah pasti datangnya. Kapan kau akan merasakan kebahagiaan?”tanyanya padaku sambil menghapus air matanya.

“Kau bohong kalau kau bahagia. Walau kalian tampak bahagia di luar, namun kalian gundah dengan ketiadaannya anak di rumah ini. Tak heran Fajar akhirnya mengapai kebahagian dengan caranya sendiri. Kau tahu dengan pasti bahwa Mas Fajar yang kau dampingi selama lima tahun telah berubah. Ia tak pernah lagi bercerita panjang lebar kepadamu. Ia seolah-olah menghindarimu bahkan setiap akhir minggu ia selalu pergi keluar kota. Kau cerdas, tentu kau tahu ia ingin seorang anak, darah dagingnya sendiri. Karena ia tak mendapatkannya darimu, tentu ia mencari perempuan lain. Ya, ia menggapai kebahagiaannya dengan caranya sendiri.”

Lontaran kata yang terucap dari bibir tipis itu benar adanya. Kenyataan tentang keluarga kecil kami yang tak kunjung bahagia bahkan tentang perubahan sikap Mas Fajar yang semakin dingin kepadaku. Hanya saja aku tak pernah mengutarakan masalah tersebut pada orang lain. Terlebih pikiran bahwa Mas Fajar punya wanita lain ku kunci rapat dalam pikiranku sendiri. Ku tipu diriku dengan mengatakan bahwa pernikahan yang kami bina baik-baik saja. Aku berusaha tersenyum dan menunjukan pada dunia bahwa kami tetap bahagia. Perempuan itu benar aku bohong pada dunia bahkan pada diriku sendiri. Sekarang aku yang menangis.

“ Aku tahu kau telah lelah dengan semua masalahmu sayang. Lihatlah dirimu di cermin. Kau sudah begitu lelah, kurus, dan pucat. Daster batik yang kau kenakan setiap hari membuat kau tampak lebih menderita, tak terurus. Kau tak semestinya seperti ini. Kau harus seperti Fajar mencari dan mengapai kebahagiaanmu sendiri,” ujarnya mencoba menghibur diriku.

Perkataan perempuan itu sungguh benar. Ya, aku sangat tak terurus, aku tak suka dengan figurku yang tampak begitu menderita. Tapi, bukankah konsep kebahagiaanku selama ini hanya bersyukur dengan apa yang diberikan padaku. Merasa cukup dengan apapun. Lalu apa yang tak cukup bagiku?apa yang harus ku gapai untuk menuju kebahagiaan?

“Kau bingung apa yang kau butuhkan untuk bahagia? Kau sungguh lucu. Hapuslah air matamu dan ingat baik-baik perkataanku ini. Kebahagian itu sederhana dan untuk mengapainya juga sederhana. Kebahagian itu adalah memenuhi semua hasrat yang ada di dalam hatimu. Tak ada batasan. Tak ada kekangan. Semuanya bebas. Kau berhak melakukan apapun yang kau suka. Ya itulah kebahagiaan. Kebahagiaan yang selama ini telah aku jalani, “ Jawabnya walaupun aku tak berkata langsung kepadanya.
“Kau masih bingung bagaimana cara untuk bahagia? Kau telah memulainya sayang”, jawab perempuan itu.
“Ya, kau telah memulainya dengan memanggilku datang kemari, “ ujarnya tersenyum.

Aku terbangun. Sinar matahari seperti menyorot mataku dan membuatku merasa silau. Secara spontan tanganku mengocok kelopak mata yang terasa perih untuk di buka. Perlahan aku berusaha duduk melawan rasa kantuk yang masih mengerayang. “ahh...” Erangku sambil menyentuh kepalaku yang terasa pening.


Dalam keadaan setengah sadar dan pusing aku melihat bahwa aku tak berada di rumah. Aku ada di sebuah kamar, aku tak kenal ruangan ini. Di sini sunguh berantakan banyak sampah dan botol bekas minuman keras di mana-mana. Aku baru sadar tenyata ada seorang pria yang tidur di sebelahku. Tapi aku masih belum bisa mengingat jelas.  Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu di perutku yang membuatku tak nyaman. Aku berlari ke kamar mandi, dan langsung memuntahkan isi perutku. Aku pun menuju wastafel menghapus bekas muntah yang mungkin tersisa, dan mencoba menghilangkan bau busuk yang keluar dari mulutku. Aku sungguh terkejut perempuan yang berbicara denganku semalam sekarang berada di depan cermin.  Aku sadar perempuan itu adalah aku.